Pencegahan, Deteksi dan Penanganan

Kebakaran merupakan ancaman serius bagi hutan dan HTI dibawah pengelolaan pemasok kayu Asia Pulp & Paper.

Berdasarkan data kami, sebagian besar kebakaran yang berdampak pada area konsesi pemasok kayu APP berasal dari:

  • Praktek tebas bakar (slash and burn) untuk kebutuhan pangan sehari-hari
  • Pembersihan lahan dengan cara dibakar yang dilakukan sebelum menanam sawit dan karet
  • Praktek perladangan berpindah
  • Kebakaran bawah tanah di area gambut
  • Pembakaran sengaja terkait dengan kompensasi finansial untuk klaim lahan
  • Kejadian yang tidak disengaja, melempar rokok yang masih menyala dan tidak memadamkan api setelah memasak.


Pencegahan, Deteksi, dan Penanganan
APP dan para pemasok kayunya melakukan investasi dalam jumlah besar untuk keperluan deteksi dan pemadaman api di area konsesi. Investasi tersebut antara lain dalam bentuk peralatan, teknologi dan tenaga kerja. Pemasok kayu kami telah melakukan penanaman kayu industri dengan luas sekitar 1 juta hektar di Sumatera dan Kalimantan, ada beberapa metode untuk mendeteksi sumber kebakaran yang diterapkan. Metode  yang digunakan adalah pemantauan jarak jauh, menara pengintai api, patroli udara dengan menggunakan helikopter, patroli darat, dan bekerjasama dengan masyarakat lokal.

Pada tahun 2013, APP dan para pemasok kayu telah mengeluarkan lebih dari USD 4 juta (tidak termasuk peralatan dan aset) untuk keperluan deteksi kebakaran dan penanganannya, dan pelatihan tenaga kerja. APP dan pemasok kayunya juga ikut mendukung penanggulangan kebakaran diluar wilayah konsesi.

Tindakan Pencegahan
APP telah menerapkan kebijakan persiapan lahan tanpa bakar (no-burning policy) sejak tahun 1996 dan kebijakan Zero Deforestasi sejak tahun 2013. Para pemasok kayu APP telah melakukan sosialisasi kebijakan ini kepada semua pihak di perusahaan dan kepada para kontraktor yang melakukan persiapan lahan, penanaman, dan pemeliharaan tanaman untuk memastikan bahwa kebijakan ini dipatuhi. Semua  pihak telah menandatangani kontrak perjanjian yang melarang mereka untuk menggunakan api dalam proses persiapan lahan, dan memastikan mereka patuh terhadap aturan praktek terbaik untuk menghindari terjadinya kebakaran.

Penyebab kebakaran yang paling sering terjadi ditimbulkan oleh pihak yang ingin membersihkan lahan secara cepat dan murah untuk pertanian ataupun hal lainnya dengan menggunakan api. Meningkatkan kesadaran tentang bahaya dan dampak kebakaran hutan akan mengurangi praktek tersebut dan akan membantu mempercepat proses tanggap penanganan kebakaran. Lebih lanjut APP dan para pemasok kayu-nya telah bekerja sama dengan komunitas Masyarakat Peduli Api. Program Masyarakat Peduli Api telah diinisiasi di lebih dari 120 desa sekitar area konsesi untuk melakukan patroli dan membantu penanganan kebakaran.     
 

Deteksi Api – Pemantauan Jarak Jauh
Pemantauan jarak jauh terhadap titik panas membantu identifikasi dini kebakaran. Data pemantauan jarak jauh ini diperoleh dari Asean Specialised Meteorological Centre setiap hari dengan menggunakan satelit NOAA, dan Centre for Remote Imaging Sensing and Processing menggunakan satelit TERRA dan AQUA.

Deteksi Api – Patroli
Sepanjang musim kebakaran hutan, patroli darat dilaksanakan secara rutin. Mereka mengitari batas – batas area konsesi dimana biasanya sumber kebakaran terjadi dan juga memeriksa jalan – jalan penghubung antar area konsesi. Tujuan dari patroli ini adalah: 1) memeriksa data titik panas dari satelit; 2) memeriksa aktivitas ilegal di lapangan; 3) deteksi dan intervensi tepat waktu pada saat terjadi kebakaran; 4) memberikan informasi dan penyadartahuan atas potensi dampak kebakaran kepada masyarakat lokal. Selain daripada itu, apabila terjadi kebakaran hutan dengan kondisi intensitas yang tinggi dan ekstrim, patroli udara juga dilakukan untuk mendukung patroli darat. 

Tindakan Penanganan Kebakaran
Penanganan kebakaran memerlukan berbagai teknik, peralatan dan pelatihan yang sesuai dengan medan, kondisi dan luas hutan yang dihadapi. Pada umumnya kebakaran yang cepat terdeteksi tidak akan menjadi besar dan dapat ditangani dan dipadamkan oleh sedikit anggota dan peralatan darat. Sebagian besar kebakaran terjadi diantara area komunitas masyarakat dan area konsesi, dan pemadaman api biasanya dilakukan oleh tim di lapangan. Akan tetapi, apabila api berskala besar dan mengancam area penting, APP menggunakan helikopter dengan alat ‘Bambi Buckets’ yang dapat secara akurat menyiramkan air pada lokasi yang dibutuhkan untuk membantu pekerjaan pemadam kebakaran di lapangan.

Tingkat Bahaya Kebakaran
Tingkatan Bahaya Kebakaran (Fire Danger Rating/FDR) diperiksa setiap hari menggunakan data meteorologi dari alat pemantau cuaca yang ada pada setiap area konsesi pemasok kayu APP.  Tingkat Bahaya Kebakaran (FDR) memberikan laporan harian berupa pemeriksaan lokasi potensi kebakaran, tingkat kesulitan penanganan kebakaran, dan dampak kebakaran. FDR di setiap negara berbeda dan memiliki perbedaan tingkatan (contoh: tingkat rendah hingga tingkat ekstrim), akan tetapi semua tingkatan tersebut bergantung kepada variabel meteorologi yang sama untuk menentukan indeks bahaya kebakaran (Fire Danger Index/FDI). Papan pemberitahuan Tingkat Bahaya Kebakaran (FDR) dipasang di depan jalan masuk area konsesi dan pada lokasi – lokasi strategis di area konsesi.

Indeks Bahaya Kebakaran
Tingkat Bahaya Kebakaran (FDR) ditentukan oleh Indeks Bahaya Kebakaran (FDI). Indeks tersebut mengkombinasikan laporan historis tingkat kekeringan, berdasarkan curah hujan/ kemarau dan penguapan dengan variabel meteorologi seperti kecepatan angin, suhu udara, dan kelembaban dimana hasilnya berupa nilai numerik – FDI. Nilai 1 (rendah) berarti api tidak akan menimbulkan kebakaran, atau akan menimbulkan kebakaran sangat lambat sehingga mudah dikendalikan, dan Nilai FDI 100 (Ekstrim) berarti api akan menimbulkan kebakaran sangat cepat dan panas sehingga sulit untuk dikendalikan.

Arti Tingkat klasifikasi Bahaya Kebakaran:

16.11.2016 | Ian L.
Sustainable Paper Sourcing Options for...
Sustainable sourcing is at the forefront for many industries -- retail, government, hospitality to name a few, but...